Dunia Bisnis Online

Peradangan otak atau yang dikenal dalam dunia medis sebagai ensefalitis adalah suatu kondisi yang serius dan harus segera ditangani. Terkait dengan kondisi ini, terdapat peradangan di jaringan otak yang diakibatkan oleh infeksi virus. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa bakteri dan jamur bisa menjadi penyebab umum radang otak.

Penyakit ensefalitis ini dapat berkembang sangat serius saat menyerang tubuh. Bukan tidak mungkin, ensefalitis ini bisa mengakibatkan penderitanya mengalami perubahan kepribadian, kelemahan tubuh, bahkan sampai mengalami kejang-kejang. Berbagai gejala lainnya umumnya ditentukan oleh bagian otak yang terinfeksi.

Penyebab Radang Otak

Ensefalitis memang tergolong ke dalam kategori penyakit langka yang berisiko mengancam jiwa. Akan tetapi, risikonya terbilang jarang karena tidak sedikit penderita ensefalitis yang kemudian dinyatakan sembuh total. Berbicara tentang seriusnya penyakit ini, Anda harus mengenali sebenarnya apa saja penyebab umum radang otak ini.

Dikutip dari hellosehat.com, peradangan otak terdapat dua jenis yaitu primer dan sekunder. Ensefalitis primer disebabkan oleh tiga kelompok utama dari virus. Penyebab pertama adalah virus umum yaitu HSV (Herpes Simplex Virus) dan EBV (Epstein-Barr Virus). Peradangan yang disebabkan oleh virus herpes termasuk berbahaya dan bahkan menyebabkan kerusakan otak parah dan berakibat fatal. Virus umum lainnya adalah sitomegalovirus, HIV, dan virus gondok.

Penyebab kedua dari radang otak primer adalah virus masa kecil. Beberapa virus masa kecil yang bisa memicu terjadinya ensefalitis, di antaranya adalah cacar air, rubella, dan campak. Vaksinasi membantu mencegah virus di masa anak-anak yang berisiko menyebabkan ensefalitis. Itulah mengapa virus-virus pada masa kecil ini jadi jarang ditemukan sebagai penyebab ensefalitis, jika memang sudah divaksinasi sejak kecil.

Penyebab umum yang ketiga dari radang otak primer ini adalah arbovirus. Virus ini dibawa oleh kutu, nyamuk, dan serangga jenis lain. Akan tetapi, jenis virus ini lebih banyak ditemukan di wilayah Timur Tengah, Afrika, dan Amerika.

Berbeda dengan kasus peradangan primer, ensefalitis sekunder ini merupakan hasil respon sistem kekebalan tubuh yang memang salah mendeteksi infeksi di tubuh. Alih-alih menyerang sel penyebab infeksinya, sistem imun justru menyerang sel sehat pada otak. Hal-hal yang bisa memicu kondisi ini adalah riwayat infeksi sebelumnya, autoimun, dan kondisi kronis, seperti HIV.

Metode Diagnosis Radang Otak

Dalam upaya pengobatannya, tentu dokter akan memulainya dengan pemeriksaan diagnosis. Radang otak memang sering sulit terdiagnosis karena gejala awalnya yang mirip dengan gejala flu. Pada tahap awal pemeriksaan, dokter menanyakan gejala yang disertai pemeriksaan fisik pasien.

Berikutnya, dokter melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan seseorang mengalami radang otak atau ensefalitis. Pemeriksaan lanjutan ini dilakukan melalui beberapa rangkaian pemeriksaan. Pemeriksaan pertamanya adalah menggunakan MRI atau CT Scan. Cara ini bisa menunjukkan kelainan yang terjadi pada otak, seperti pembengkakan atau tumor yang memicu peradangan pada otak.

Pemeriksaan kedua adalah lumbal fungsi yang dilakukan guna mengidentifikasi jenis virus penyebab umum radang otak. Dalam pemeriksaan ini, dokter memasukkan jarum ke tulang belakang guna mengambil sampel cairan serebrospinal yang kemudian diperiksa di laboratorium.

Berikutnya adalah tes elektroensefalogram (EEG). Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa aktivitas listrik otak serta menentukan lokasi otak yang terinfeksi. Langkah berikutnya adalah tes laboratorium yang meliputi tes darah, urin, atau dahak, yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab infeksi.

Metode pemeriksaan yang terakhir adalah biopsy otak yang bertujuan mendeteksi keberadaan virus lewat pengambilan sampel di jaringan otak. Prosedur ini hanya dilakukan apabila gejala yang dialami semakin memburuk dan pengobatan tidak efektif lagi.

Sumber artikel:

hellosehat.com

www.alodokter.com

Sumber gambar:

Halodoc.com