Dunia Bisnis Online

Pembangunan berkelanjutan memiliki tujuan yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada hakikatnya, pembangunan ini dilakukan supaya terjadi pemerataan pembangunan antar generasi di masa kini maupun masa yang akan datang. Untuk itu, GCF (Green Climate Fund) menjadi salah satu solusinya. Apa itu GCF ? Yuk simak selengkapnya berikut.

Tentang GCF

GCF merupakan singkatan tadi Green Climate Fund, yaitu dana khusus terbesar yang ada di dunia untuk membantu negara negara berkembang. Bantuan tersebut diberikan dalam rangka langkah mitigasi efek rumah kaca, sekaligus meningkatkan kemampuan negara dalam beradaptasi terhadap perubahan iklim yang terjadi.

United Nations Framework Convention on Climate Change pada tahun (UNFCCC) telah mendirikannya sejak tahun 2010 silam. Dan sampai sekarang mempunyai berbagai peran penting, salah satunya mewujudkan perjanjian Paris. Yaitu mendukung tujuan menjaga kenaikan suhu global berada di bawah angka 2°C.

Upaya yang dilakukan GCF untuk membantu mewujudkan pembangunan berkelanjutan seperti itu adalah dengan melakukan pendanaan iklim bagi negara negara berkembang, yang bergabung melakukan aksi iklim. Tujuannya adalah untuk mendorong perubahan paradigma dalam respons global terhadap perubahan yang terjadi pada iklim.

Arsitektur GCF

1. National Designated Authority

Terdapat tiga aktor utama yang mempunyai peran kunci dalam berinteraksi dengan Green Climate Fund. Yang pertama ada NDA (National Designated Authority), fungsinya yaitu sebagai penghubung antara negara yang membutuhkan pendanaan dalam proyeknya dengan GCF. Di Indonesia, Badan Kebijakan Fiskal adalah yang berperan sebagai NDA GCF tersebut.

2. Entitas Terakreditasi

Entitas terakreditasi atau AE (accredited entities) merupakan lembaga yang telah terakreditasi oleh Green Climate Fund. Sehingga mereka dapat melakukan pengajuan maupun mengembangkan proposal pendanaan. Di Indonesia, PT SMI (Sarana Multi Infrastruktur) sampai saat ini menjadi satu satunya entitas yang berperan sebagai AE atau DAE (direct accredited entity).

Status akreditasi tersebut memberikan keleluasaan bagi perusahaan untuk melakukan koordinasi maupun menyampaikan usulan program kepada GCF. Sehingga PT SMI mampu membuka jalan bagi Indonesia untuk memanfaatkan dana iklim global terbesar yang ada. Jadi target mengejar pengurangan emisi gas rumah kaca sesuai perjanjian Paris UNFCCC pun kemungkinan dapat terealisasikan.

3. Entitas Pelaksana

Executing entity (EE) atau entitas pelaksana dapat berasal dari pemilik proyek yang bukan merupakan entitas terakreditasi. Jadi ketika entitas terakreditasi berperan sebagai manajer program dana, maka entitas pelaksana ini akan bertindak mengawasi pelaksanaan keseluruhan kegiatan proyek pembangunan berkelanjutan. Yang nantinya di bawah pengawasan AE dan didukung oleh GCF.

Karena GCF merupakan dana khusus terbesar untuk membantu negara negara berkembang, sangat disayangkan apabila tidak dimanfaatkan dengan baik. Terlebih PT SMI sudah mendapatkan akreditasi dari lembaga tersebut. Sehingga dapat melakukan pengajuan proyek agar memperoleh pendanaan. Selain GCF, PT SMI sendiri telah bermitra dengan lembaga internasional lain yang bisa dilihat di ptsmi.co.id.