Dunia Bisnis Online

Pada hakikatnya seorang wanita akan mengalami haid di setiap bulannya. Haid menurut bahasa adalah banjir atau mengalir. Sementara menurut sya’ra, haid adalah darah yang keluar dari ujung rahim wanita ketika dia dalam keadaan sehat, bukan setelah melahirkan bayi atau sedang dalam keadaan sakit. Nah jika kalian ingin mengetehui tentang mandi wajib setelah haid, berikut diantaranya.

Dalam Islam, haid merupakan hadast besar. Hadast menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan tidak suci pada seorang muslim yang menyebabkan dia tidak boleh shalat, tawaf dan lain sebagainya. Begitu pula menurut sya’ra Islam hadast adalah keadaan badan yang tidak suci atau kotor dan dapat dihilangkan dengan cara berwudhu, mandi wajib dan tayamum. Oleh sebab itu wanita yang sedang haid tidak boleh atau dilarang melaksanakan ibadah wajib seperti shalat, puasa, tawaf( mengelilingi Ka’bah), membaca atau memegang Al- Qur’an.

Setelah haid selesai seorang wanita diwajibkan untuk bersuci  dengan mandi junub atau mandi wajib setelah haid, agar dapat melaksanakan ibadah kembali. Mandi junub atau mandi wajib adalah mengalirkan air ke seluruh tubuh tanpa terkecuali. Sebagai ibadah tentunya dalam melakukan mandi wajib ada kefardluan atau rukun tertentu yang mesti dipenuhi. Tidak terpenuhinya rukun tersebut secara sempurna, menjadikan mandi wajib yang dilakukan tidak sah dan orang tersebut masih dianggap berhadast sehingga dilarang melakukan aktivitas tertentu.

Dalam mazhdab Imam Safi’i rukun mandi junub atau mandi wajib adalah berniat  mandi junub atau mandi wajib yang dilakukan bersamaan dengan saat air pertama kali disiramkan ke tubuh. Dikutif dari NU Online, Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami dalam kitabnya Safinatun Naja, menyebutkan ada 2 (dua) hal yang menjadi rukunnya mandi wajib, yakni niat dan meratakan air keseluruh tubuh. Dalam kitab tersebut beliau menuliskan

فر وض الغسل اثنا ن النية وتعميم البدن بالملء

Artinya : “fardlu atau rukunnya mandi ada dua, yakni niat dan meratakan air keseluruh tubuh.”

Sementara untuk niat mandi junub atau niat mandi wajib haid adalah

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلا كْبَرِِمِنَ الْحَيْضِ فرضاٌ لله تعالى

Latin : Nawaitul gusla lirof’il hadastil akbari minal haidhi fardlon lillahi ta’ala

Artinya :” Aku niat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar karena haid fardlu karena Allah Ta’ala.”

Apa yang Syekh Salim sebutkan di atas kemudian dijabarkan penjelasannya oleh Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi dalam kitabnya Kaasyifatus Sajaa sekaligus menerangkan tata cara melaksanakan mandi wajib.

  1. Niat mandi wajib mesti dilakukan bersamaan dengan saat pertama kali menyiramkan air ke anggota tubuh.
  2. Meratakan air keseluruh bagian luar tubuh. Bila ada sedikit saja bagian yang tidak terkena air, maka mandi wajib tersebut belum dianggap sah. Untuk bagian tubuh yang berbulu, air harus mengalir sampai ke kulit dalam dan pangkal rambut atau bulu. Tubuh diasumsikan sudah tidak mengandung najis.

Selain hal-hal yang wajib itu ada pula hal- hal kesunnahan dalam mandi junub atau mandi wajib. Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah secara teknis menjelaskan adab mandi junub atau mandi wajib dengan cukup rinci mulai dari masuk kamar mandi sampai keluar kamar mandi.

  1. Saat masuk kamar mandi ambillah air lalu basuhlah tangan terlebih dahulu sebanyak 3 kali
  2. Bersihkan kotoran atau najis yang masih menempel di badana
  3. Berwudlu sebagaimana saat wudlu hendak sholat termasuk do’a-do’anya. Akhiri dengan menyiram kedua kaki
  4. Mulailah mandi wajib dengan mengguyur kepala sampai 3 kali bersamaan dengan itu berniatlah menghilangkan dari hadast besar
  5. Guyur bagian badan sebelah kanan sebanyak 3 kali. Kemudian bagian kiri 3 kali juga. Gosoklah tubuh depan dan belakang sebanyak 3 kali. Sela rambut atau jenggot(jika ada). Pastikan air mengalir ke lipatan-lipatan kulit dan pangkal rambut. Sebaiknya hindari tangan menyentuh kemaluan. Jika menyentuh kemaluan hendaklah berwudlu lagi.